Belajar bahasa pemrograman

Belajar “bahasa” pemrograman baru semakin mudah dengan adanya beberapa website yang menawarkan pembelajaran yang interaktif dan menarik, rekomendasi dari saya antara lain:
http://www.codecademy.com/
https://www.khanacademy.org/computing/cs
http://code.org/

terkadang saya menjumpai anak-anak yang kaget dengan bahasa pemrograman dan akhirnya tidak menyukai dunia programming, padahal kedepannya untuk mempercepat pekerjaan kita membutuhkan bantuan komputer.
Apapun pekerjaan kita, tidak ada yang salah dengan belajar bahasa pemrograman, mengerti komputer dan teknologi saat ini bekerja dan yang paling penting berlatih berpikir secara runut dan efisien (layaknya belajar “bahasa matematika” ☞ kasusnya sama dengan anak-anak yang kemudian tidak menyukai matematika… ^^)

Menyalin berkas (file/folder) besar dari dan ke server

Saya posting di sini untuk pengingat saya saja.. karena command ini sering terlupa ketika saya sedang membutuhkannya.. hahaha.. -_-

Berkas ukuran kecil
Jika kita ingin menyalin (copy) berkas dengan ukuran yang kecil (misal di bawah 1 Gigabyte) maka kita dapat menggunakan sftp atau scp (bisa menggunakan user interface seperti gftp di ubuntu, winscp di windows)

Perintah di terminal:
scp FOLDER_A/ 167.205.22.123:FOLDER_A/
atau
scp 167.205.22.123:FOLDER_B/ FOLDER_B/

Berkas ukuran besar
Masalah yang sering lupa adalah untuk ukuran yang sangat besar seperti data riset, backup data, dll (misal ingin menyalin 1 Gigabyte – 1 Terabyte dari server ke komputer kita atau sebaliknya), maka akan kerepotan dan tidak efisien jika menggunakan standar scp.

Gunakanlah rsync (Wikipedia: a utility software and network protocol for Unix-like systems (with a port to Microsoft Windows) that synchronizes files and directories from one location to another while minimizing data transfer by using delta encoding when appropriate)
Rsync juga dapat digunakan untuk menyalin berkas antar perangkat keras yang berbeda, melalui jaringan dengan SSH, membandingkan set data besar (ops -n, --dry-run), melanjutkan salinan (transfer) yang terganggu, sekalian “compressing”, dll

Sebaiknya menjalankan rsync pada komputer anda (laptop atau workstation) jika melakukan transfer melalui jaringan. Perintahnya:
time rsync -ai FOLDER_A/ 167.205.22.123:FOLDER_A/
atau
time rsync -ai 167.205.22.123:FOLDER_B/ FOLDER_B/

Rsync akan menggunakan SSH dan akan meminta kata sandi anda. Jika koneksi anda putus rsync akan melanjutkan proses penyalinan, cukup jalankan perintah yang sama. Rsync tidak tersedia di Windows (by default). Pastikan untuk memberikan “/” setelah nama folder, contoh FOLDER_B/. Jika tidak, di dalam folder B akan terdapat folder B dan seterusnya (FOLDER_B/FOLDER_B/). Perlu diingat rsync tidak memindahkan berkas, rsync hanya menyalin.

Sumber: internet + draft_manual Bosscha Perseus cluster

Runge-Kutta-Fehlberg method – adaptive stepsize

Runge-Kutta-Fehlberg (RKF45 / RK45) adalah metode standar yang digunakan untuk menyelesaikan Initial Value Problem (trademark). Persoalan apapun mengenai initial value problem dalam ODE biasanya langsung dicoba penyelesaiannya dengan metode ini terlebih dahulu sebelum mencari metode lain yang lebih efisien.

Keunggulan:

  •  akurasi orde 5
  •  dengan jumlah step yang sama sudah mendapatkan solusi orde 4, yang kemudian dari selisih hasil dari kedua orde digunakan untuk menghitung error
  •  karena diketahui pendekatan dari error fungsi tersebut maka dapat di atur toleransi error (local truncation error) dengan mengubah step size (adaptive step size)
  •  dapat mendeteksi singular point dari fungsi (bisa saja terlompati jika menggunakan step konstan)

:D
Program dengan contoh kasus Riccati Equation:

/************************************/
/* Copyleft (c) 2014.  R.W. Wibowo  */
/* RKF45 - adaptive stepsize        */
/************************************/

#include
#include
#include
#include
#include
using namespace std;

/* example function: Riccati equation */
double f(double t, double y){
    return (y*y + t*t);
}

/* plot using gnuplot */
void plot();

// MAIN
int main(){
    double y,y0,t,a,b,R,h,hmax,hmin,TOL,delta,K1,K2,K3,K4,K5,K6;
    int FLAG;

    /* RKF constants */
    double c11 = 0.25, c12 = 0.25;
    double c21 = 3./8., c22 = 3./32., c23 = 9./32.;
    double c31 = 12./13., c32 = 1932./2197., c33 = -7200./2197., c34 = 7296./2197.;
    double c41 = 1.0, c42 = 439./216., c43 = -8., c44 = 3680./513., c45 = -845./4104.;
    double c51 = 0.5, c52 = -8./27., c53 = 2.0, c54 = -3544./2565., c55 = 1859./4104., c56 = -11./40.;

    /* initial parameters */
    a = 0.; b = 1.5; // boundary
    y0 = 0.5; // initial value
    hmax= 0.1; hmin = 0.01; // step size
    TOL = 1.e-6; // TOLERANCE

    t = a; y = y0;
    h = hmax; FLAG = 1;

    ofstream out;
    out.open("rkf45_out.txt");
    out << t << " " << y << " " << h << endl;

    while (FLAG == 1){
        K1 = h*f(t, y);
        K2 = h*f(t+c11*h, y+c12*K1);
        K3 = h*f(t+c21*h, y+c22*K1+c23*K2);
        K4 = h*f(t+c31*h, y+c32*K1+c33*K2+c34*K3);
        K5 = h*f(t+h,     y+c42*K1+c43*K2+c44*K3+c45*K4);
        K6 = h*f(t+c51*h, y+c52*K1+c53*K2+c54*K3+c55*K4+c56*K5);

        /* approximation of local truncation error O(h^n) */
        R = fabs(K1/360. - K3*128./4275. - K4*2197./75240. + K5/50. + K6*2./55.)/h;

        /* accepted */
        if (R <= TOL){
            t = t+h;
            y = y + K1*25./216. + K3*1408./2565. + K4*2197./4104. - K5/5.;
            out << t << " " << y << " " << h << endl;
        }

        /* change the step size */
        delta = 0.84*pow((TOL/R),0.25);
        if (delta <= 0.1){              h = 0.1*h;         }else if (delta >= 4.){
            h = 4.*h;
        }else{
            h = delta*h;
        }
        if (h>hmax){ h = hmax;}

        if (t >= b){
            FLAG = 0;
        }else if ((t+h) > b){
            h = b-t;
        }else if (h < hmin){
            FLAG = 0;
            cout << "Minimum h exceeded!\n";
        }
    }
    out.close();

    plot();
    return 0;
}

void plot(){
    ofstream ploter;
    ploter.open("rkf45.inp");
    ploter << "#gnuplot inputfile\n";
    ploter << "set xlabel \"t\"\n";
    ploter << "set ylabel \"y(t)\"\n";
    ploter << "plot \"rkf45_out.txt\" u 1:2 title \"RKF45 - adaptive stepsize\"\n";
    ploter.close();

    system("gnuplot -persist < rkf45.inp");
}

dengan parameter dan toleransi yang tertulis diprogram hasilnya sebagai berikut:
RKF45 riccati equation

Tree Algorithm

Hilal? Ramadan 1434 H – Kanazawa, Ishikawa

Hal sederhana dapat kita lakukan untuk memprediksi kapan bulan Ramadan akan dimulai (Hisab), juga apa yang bisa disiapkan jika kita akan melakukan pengamatan hilal (Rukyat), kali ini saya mencoba belajar menggunakan software-software opensource yang ada untuk melakukan perhitungan dan sedikit memberikan gambaran.

Ini saya lakukan untuk diri saya pribadi dan tidak bermaksud untuk dijadikan acuan bagi orang lain. Syukur jika ada manfaatnya dan memberi informasi bagi yang membaca (semoga bisa untuk semua kalangan), hehe.. tetapi harap mencari referensi lain yang lebih kredibel dan “berwenang”. Saya berusaha seobjektif mungkin (walaupun tidak akan mungkin) dan dari pengetahuan seadanya, sehingga apabila ada kekurangan dan kesalahan mohon kritik dan sarannya.. terima kasih.

Lokasi Pengamat
Kanazawa, Ishikawa
Coordinates: 36°34′N 136°39′E

————————————————– ***
Apa itu Hilal? konjungsi (ijtimak)? dan kaitannya dengan waktu terbenam Matahari?
Kita tahu bahwa Bulan mengelilingi Bumi dengan periode sinodis (fase) sebesar 29.5 hari, kedua benda ini juga bersama-sama mengelilingi Matahari dengan periode satu tahun. Keteraturan ini menjadi acuan manusia untuk menetapkan waktu dalam kehidupan sehari-hari, termasuk penentuan awal bulan Hijriah.

Saat posisi Bulan “segaris” dengan Bumi dan Matahari (berada di antaranya) dalam bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari, itulah saat terjadinya “Bulan Baru”, peristiwa ini dikenal dengan nama lain: waktu konjungsi atau ijtima’ (#scientifically: saat dimana bujur ekliptika Bulan dan Matahari sama diamati dari pusat Bumi)

Hasil perhitungan waktu ijtima’ untuk bulan Ramadan 1434 H ini adalah pada tanggal 8 Juli 2013, 16.14 JST.

**ingat bahwa perhitungan semacam ini adalah sederhana di abad 21 ini dengan ketelitian hingga di bawah milidetik, berbeda dengan jaman dahulu. “Time keeping” dibutuhkan dan selalu dilakukan oleh para astronom.

Gambar Fase-fase Bulan:
moon_phases_diagram
dapat dilihat bagaimana pergerakan Bulan di atas, yaitu bergerak berlawanan arah jarum jam begitu juga Bumi (dilihat dari atas “kutub utara”), sehingga apabila kita cermati maka akan jelas bahwa “bulan baru” ialah bulan yang terbit ketika pagi hari, dan terbenam ketika sore hari, hampir bersamaan dengan Matahari (searah).

lalu “Hilal” itu apa?
wikipedia: “Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender Islam.”
maka untuk dapat mengamati hilal haruslah posisi Bulan “masih berada di atas horizon” ketika Matahari sudah terbenam.

**horizon secara kasar adalah garis semu yang memisahkan langit dan bumi, biasa disebut cakrawala, kaki langit, atau ufuk.

Beberapa contoh foto hilal untuk menunjukkan seperti apa hilal itu:
Zoom
hilal_rajab

hilal-ramadhan-1430-h1

Realitas yang terlihat dan biasa terjadi adalah sebagai berikut:
(juga gambaran skala ukuran bulan di langit)
hilal_google

hilal_mutoha

hilal2_jumadaltsaniyah1429h_pakarfisika

Sumber gambar: http://www.google.com

Bisa dibayangkan susahnya mendapatkan “kesempatan” mengamati hilal, alasannya: (1) masih sangat tipis (setipis rambut, halah :D ), (2) dekat dengan Matahari dan (3) selang waktu pengamatan yang sebentar (karena akan segera tenggelam), (4) arah dekat horizon yang banyak diliputi awan, juga (5) banyak faktor alam lain yang bergantung pada lokasi pengamatan (cuaca). Untuk itu pengamatan hilal dilakukan di berbagai tempat untuk memperbesar peluang teramatinya hilal. Di Indonesia sekarang sudah terdapat semacam “jejaring pengamatan hilal” cukup besar yang tersebar hampir diseluruh provinsi dan melibatkan berbagai pihak, baik organisasi pemerintah (misal: kementrian kominfo, kementrian agama), BMKG, LAPAN, beberapa Universitas, Bosscha & Astronomi ITB, BHR (Badan Hisab Rukyat), Ormas Islam, astronom amatir, maupun mandiri.

————————————————– ***
Kriteria Hilal
1. Wujudul Hilal
Jika kita sudah mengerti apa yang dimaksud dengan hilal, maka dapat kita pahami bahwa syarat pertama untuk dapat mengamati hilal adalah:
1) ijtimak/konjungsi telah terjadi (bulan baru)
2) bulan baru tersebut haruslah terbenam setelah Matahari terbenam
maka kondisi “minimum” ini dapat digambarkan sebagai berikut:

wujudul_hilal_muhammadiyah.or.idSumber: http://www.muhammadiyah.or.id/ 

kriteria minimum ini yang biasa disebut sebagai kriteria “Wujudul Hilal”.

namun, mengingat faktor-faktor di atas, maka kriteria tersebut terlalu “ideal” untuk dapat teramatinya hilal apabila Bulan sangat dekat dengan Matahari (mendekati posisi minimum di atas). Walaupun demikian kriteria ini tetap digunakan oleh beberapa ormas islam antara lain yang terbesar adalah Muhammadiyah. Alasan utamanya menurut saya adalah karena “kemudahan” dan “memberi kepastian lebih awal” kepada umat islam dalam menjalankan ibadah puasa, idul fitri, dan idul adha. Karena dengan menggunakan kriteria ini sebagai penetapan pergantian bulan (Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah) kita tidak harus melakukan pengamatan dan menunggu berita teramatinya hilal (apalagi menunggu sidang isbat :D ). Hanya dengan perhitungan kita dapat menetapkan kapan awal bulan jauh hari sebelumnya (bahkan puluhan tahun sebelumnya juga bisa.. hehe..).

Kaitannya dengan sains, wujudul hilal percaya dengan sains dan teknologi saat ini, bahwa kita tidak harus melakukan pengamatan hilal, kita yakin sudah pasti sebenarnya “hilal” itu terjadi namun memang tidak akan terlihat (wujud). Dan tidak perlu menunggu Matahari terbenam dan sabit terlihat untuk “percaya” bahwa bulan itu memang sudah “melewati” Matahari. Menurut Muhammadiyah, saat ini wujudul hilal-lah yang seharusnya digunakan dan “tidak meninggalkan” sunnah.

Memang nyaman menggunakan kriteria ini (wujudul hilal), namun banyak yang berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan (3 bulan khusus) itu haruslah dilakukan pengamatan. Lebih banyak hadits yang eksplisit menyebutkan tentang pengamatan hilal, sehingga ada kriteria lain yang hanya berdasarkan pada terlihat atau tidaknya bulan sabit muda tersebut oleh pengamat (Rukyatul Hilal).

2. Rukyatul Hilal
Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad:

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal).”

Hisab tetap digunakan namun sifatnya hanya membantu mencari posisi Bulan ketika melakukan pengamatan Hilal. Contoh ormas islam yang menerapkan kriteria ini adalah Nahdlatul Ulama (NU). Walaupun kriteria ini merupakan kriteria paling “eksplisit” tetapi terdapat beberapa kelemahan juga. Yaitu:
— sangat dipengaruhi faktor-faktor alam yang sudah disebutkan di atas.
— untuk wilayah yang memanjang seperti di Indonesia, maka penduduk bagian timur Indonesia apabila tidak dapat teramati hilalnya maka harus selalu “menunggu” hasil pengamatan bagian barat yang beda waktunya hingga 2 jam.
— faktor pengamat/observer; ketika seorang pengamat bersumpah telah berhasil melihat hilal, maka sumpahnya dapat dijadikan landasan untuk menetapkan awal Bulan, walaupun sebenarnya tidak akan mungkin melihat Hilal saat itu menurut ilmu astronomi (misalnya Bulan masih terlalu dekat dengan Matahari). Aneh bukan? tentu saja.. lalu apa yang dilihat oleh yang mengaku sebenarnya? bisa saja secarik awan yg menyerupai bulan sabit atau objek lain seperti bintang. Pengamat hilal yang tidak terlalu mengenal astronomi biasanya salah menduga bentuk hilal dan “percaya” bahwa yang ia lihat adalah hilal. Lalu bagaimana untuk mengatasi kelemahan Rukyatul Hilal? Muncullah kriteria “visibilitas hilal”, kriteria ini berusaha memperbaiki kelemahan rukyatul hilal dan juga wujudul hilal menurut mereka.

Pada perkembangannya penganut rukyatul hilal mulai menyetujui “visibilitas hilal” ini, ditandai dengan tidak diterimanya beberapa pengakuan tampaknya hilal karena memang sangat tidak mungkin melihat hilal dengan mata telanjang saat itu (contoh beberapa kali kasus di Cakung Jakarta).

3. Visibilitas Hilal (Imkanur Rukyat)
artinya kriteria ini menerapkan “syarat minimal untuk mungkin teramatinya hilal”. Karena tidak mungkin kita bisa mengamati hilal (dalam panjang gelombang optik/cahaya tampak) jika kondisinya terlalu dekat dengan Matahari seperti saat dekat syarat minimal pada kriteria Wujudul Hilal.

a) Kriteria Imkanur Rukyat MABIMS
Untuk memasuki bulan baru, setelah terjadi ijtimak kriteria Imkanur Rukyat (IR) 2-3-8 memiliki syarat:
1) ketinggian Bulan di atas horizon minimal 2°,
2) jarak Bulan-Matahari minimal 3°, dan
3) umur bulan minimal 8 jam (umur bulan dihitung setelah waktu ijtimak -> ketika ijtimak umur bulan = 0 jam)

Kriteria ini dipegang oleh negara MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia and Singapore), jika salah satu dari 3 kriteria itu sudah terpenuhi maka sudah memenuhi kriteria IR 2-3-8 MABIMS. Namun kriteria IR 2-3-8 yang dipegang oleh Pemerintah Indonesia (Kemenag RI) sedikit berbeda, yaitu kriteria IR 2-3-8 sudah memenuhi syarat jika ke-3 syarat di atas sudah terpenuhi. Itu terjadi ketika ada perbedaan jatuhnya Idul Fitri pada 2011, dimana pemerintah Indonesia berbeda dengan negara-negara MABIMS lainnya. Saat ini banyak yang menggugat kriteria ini karena masih terlalu ideal.

b) Kriteria LAPAN
LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) memiliki kriteria “visibilitas hilal” tersendiri, yakni:
1) Jarak Bulan-Matahari > 6.4°
2) Beda tinggi Bulan-Matahari > 4°

saat ini kriteria ini yang lebih didukung pemerintah dan beberapa ormas islam, dan berusaha dikembangkan untuk menyatukan kriteria2 yang lain.

———————– ***

apakah hanya dua itu? tentu tidak, penelitian tentang kriteria “visibilitas hilal” ini cukup banyak baik dari ormas islam dan penelitian astronomi. Kita dapat menghitung “visibilitas hilal” dengan menggunakan data astronomi, data atmosfer, dan data statistik dari historis pengamatan hilal, sehingga dapat membuat peta visibilitas hilal.
Akibat penggunaan parameter dalam menentukan visibilitas hilal maka kriteria visibilitas hilal inipun masih belum “fix”, apalagi setiap orang bisa saja menentukan apa saja parameter yang diikutkan dan besarnya sesuai data yang ia miliki, masih banyak data yang diperlukan untuk menyempurnakan kriteria ini sehingga dicapai kesepakatan parameter yang digunakan oleh setiap orang.

Terkait sains, kriteria ini memberi argumentasi bahwa sains dibangun atas dasar pengamatan, perhitungan (Hisab) dan pengamatan (Rukyat) disandingkan dalam kedudukan yang setara. Dengan menggunakan kriteria ini selain mengikuti sunnah kita juga mendorong kemajuan sains dalam islam itu sendiri (khususnya astronomi) dengan “tidak meninggalkan” hadits yang ada. Walaupun perhitungan saat ini sudah jauh sangat teliti dan dapat dilakukan siapa saja, namun motivasi untuk “mengamati alam” ini tetap ada dengan cara mengamati Hilal terus menerus (memperbanyak data).

Tidak bisa tidak untuk menyatukan kalender islam haruslah menggunakan hisab, namun hisab dengan kriteria seperti apa? apakah wujudul hilal ataukah visibilitas hilal ini? Pada praktiknya di Indonesia hasil keputusan masih menunggu sidang isbat yang harus menunggu hasil pengamatan (rukyat).

4. Rukyat Global
Rukyat Global adalah kriteria penentuan awal bulan yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya. Prinsip ini antara lain dipakai oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Pertentangan masih terus berlanjut, debat terbesar terjadi antara pendukung kriteria visibilitas hilal/imkanur rukyat dengan wujudul hilal. Penganut kriteria lain berusaha untuk tidak menampakkan perbedaan dengan menerima sidang isbat. Sedangkan Muhammadiyah berpendapat bahwa kriterianya sudah sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini dan untuk menentramkan umat. Pemerintah sendiri dengan imkanur rukyatnya percaya lebih sesuai dengan dalil yang ada dan berusaha mengakomodasi hisab dan rukyat. Juga ingin menyatukan umat dengan mengajak Muhammadiyah untuk terus berdiskusi (tapi yang saya liat ya dengan mamaksakan kriterianya). Akhirnya yang terjadi saat ini Muhammadiyah malah memutuskan tidak mengikuti sidang isbat (karena kalaupun ikut Muhammadiyah juga akan tetap memakai wujudul hilal dan sudah tahu pasti akan berbeda dengan pemerintah). Mengenai mana yang lebih benar masing-masing berpendapat merekalah yang benar sehingga sangat susah menyatukannya (sama2 ngotot :D ). Selama Muhammadiyah (karena teramasuk organisasi cukup besar) masih bersikukuh dengan wujudul hilalnya dan pemerintah tetap pada imkanur rukyatnya maka perbedaan awal bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah akan selalu menghantui.

**Pendapat: Mari kita tetap damai dalam perbedaan, dan mencari tahu dasar perbedaan itu (tidak asal ikut). Silahkan dicari lagi dasar perbedaanya dan semoga mendapat pencerahan. Jika sudah tahu menurut saya sebisa mungkin tetap harus ada upaya menyatukan dengan cara yang baik dan tidak harus dengan *mengecap salah kriteria yang lain, karena menurut saya pribadi dalam hal ini bukan mencari salah dan benar, tapi mencari mana yang lebih baik dan benar. Yang saya lihat keduanya saling berburuk sangka, menyalahkan dan menganggap kriteria yang digunakan oleh yang lain tidak benar dan “aneh”.
Niat pembahasan ini hanya untuk menjelaskan kriteria yang ada dan perbedaannya. Mohon maaf kalau pembahasan diatas masih terasa mengandung subjektifitas, oleh karena itu jika ada yang salah mohon koreksinya.

————————————————- *** —————————————-
RAMADAN 1434 H untuk daerah Kanazawa (Jepang pada umumnya)
apa yang dilakukan setelah tahu waktu ijtima’?
jika kita tahu bahwa pada tanggal 8 Juli 2013 terjadi konjungsi dan terjadi sebelum Matahari terbenam bagi pengamat (16.14 JST), maka tebakan pertama adalah “Oh mungkin nanti sore (tgl 8 sore) setelah Matahari terbenam sudah masuk bulan Ramadan”.

**ingat bahwa pergantian hari untuk kalender Komariah/Hijriah adalah saat matahari terbenam, bukan jam 12 malam.

lalu berikutnya bagaimana?
Kita cek apakah ketika Matahari terbenam, Bulan memang masih berada di atas horizon?
Jika iya, maka apabila kita menggunakan kriteria wujudul hilal dapat diambil kesimpulan bahwa keesokan harinya adalah tanggal 1 Ramadan. Jika kita menggunakan kriteria visibilitas hilal, maka yang dilakukan adalah mengecek data apakah telah memenuhi syarat kriteria yang diberikan atau belum.

jika bulan ternyata sudah dibawah horizon ketika Matahari terbenam, maka cek konfigurasi Bulan dan Matahari itu untuk keesokan harinya (tanggal 9).
begitu seterusnya.. (seharusnya akan berhenti maksimal pada cek hari ketiga setelah ijtimak).

DATA
*Untuk lokasi pengamat di Kanazawa
——————————–
8 Juli 2013
Matahari terbenam = 19:16 JST
Bulan terbenam = 18:58 JST
Umur Bulan = +03h 02m
walaupun bulan sudah berumur 3 jam, namun karena kemiringan orbit mereka dilangit (akibat lintang pengamat di Kanazawa), menyebabkan Bulan terbenam terlebih dahulu, sehingga Hilal tidak mungkin terlihat dan tidak masuk dalam kriteria manapun. Kesimpulan: tanggal 9 Juli belum masuk 1 Ramadan.

———————————
9 Juli 2013
Matahari terbenam = 19.16 JST
Bulan terbenam = 19.36 JST
Saat Matahari terbenam:
Umur Bulan = +27h 10m
Tinggi Bulan dari horizon = +04°:34′:06″
Selisih Azimuth dengan Matahari = -12°:28′:13″
Jarak sudut dari Matahari = +13°:16′:31″
Lebar sabit = +00°:00′:24″ (24 detik busur itu dapat dibayangkan kira-kira lebar bulan purnama yang biasa kita lihat dibagi seratus)
Iluminasi = 1.34 % (di banding Bulan purnama)
Sudah tentu untuk Wujudul Hilal maka 1 Ramadan akan jatuh pada tanggal 10 Juli.
begitu juga apabila kita menggunakan kriteria Imkanul Rukyat yang dianut MABIMS ataupun LAPAN. Kebetulan kompak untuk kasus ini walaupun sebenarnya sangat dekat dengan batas kriteria. Apabila menggunakan kriteria Odeh masih tidak akan bisa terlihat Hilal walaupun menggunakan Teleskop.
According to Odeh Criteria, using the following values at Best Time:
* Moon-Sun Topocentric Relative Altitude =+03°:33′:27″ (03.6°)
* Topocentric Crescent width = +00°:00′:23″ (0.38′)
* q = -1.28
* The Crescent Visibility is: Not Visible Even With Optical Aid.

Jadi kalau dilakukan Rukyatul Hilal peluangnya sangaaat kecil. Jika menganut data ini dan bisa dilihat pada peta visibilitas hilal untuk tanggal 9 Juli maka kemungkinan Hilal masih dapat dilihat di Jepang tapi hanya di daerah Selatan. Kalau mau pergi ke Nagasaki itupun harus bawa teleskop.. :D
————————-
10 Juli 2013
Matahari terbenam = 19:16 JST
Bulan terbenam = 20:11 JST
Saat Matahari terbenam:
Umur Bulan = +51h 01m
Tinggi Bulan dari horizon = +11°:26′:39″
Selisih Azimuth dengan Matahari = -21°:07′:53″
Jarak sudut dari Matahari = +13°:16′:31″
Lebar sabit = +00°:01′:17″
Iluminasi = 4.32 %
According to Odeh Criteria, using the following values at Best Time:
* Moon-Sun Topocentric Relative Altitude =+10°:01′:50″ (10.0°)
* Topocentric Crescent width = +00°:01′:16″ (1.26′)
* q = 9.89
* The Crescent Visibility is: Easily Visible By Naked Eye.

“Melok2..” pakai mata biasa saja harusnya sudah kelihatan.
————————

Kita juga bisa membuat peta visibilitas hilal untuk seluruh dunia (tidak hanya di Kanazawa) seperti ini:
*peta ini diambil untuk saat “best time” dalam mengamat hilal
8 Juli 2013
8_Ramadan 1434

9 Juli 2013
9_Ramadan 1434

10 Juli 2013
10_Ramadan 1434
sumber: Accurate Times 5.3

dan film bisu ini semoga dapat memberi gambaran… he

Software:
- Accurate Times 5.3 By Mohammad Odeh
Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP). Copyright (C) 2000-2011 ICOP. http://www.icoproject.org/accut.html
- Stellarium 0.12.1 http://www.stellarium.org/

Referensi:
- Informasi BMKG mengenai awal bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah 1434H untuk wilayah Indonesia

- https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/19/astronomi-memberi-solusi-penyatuan-ummat/ dan yang terkait di dalamnya.. (jika ingin lihat perdebatan antara imkanur rukyat dan wujudul hilal bisa di awali dari sini)

- http://www.sangpencerah.com/2013/06/analisa-1-ramadhan-1434-h-2013-m.html

- http://id.wikipedia.org/wiki/Hisab_dan_rukyat

-http://pwpersisjabar.org/?mod=content&cmd=news&berita_id=14043&category_id=12

- http://www.sangpencerah.com/2013/07/hisab-dan-rukyat-dalam-prespektif_3.html

- http://www.sangpencerah.com/2013/06/imkan-rukyat-prof-thomas-adalah.html

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/07/05/mpgc73-problem-kalender-islam

- fatwa MUI

—————————————————– *** —————————————————–

Jika ingin melakukan rukyat gunakanlah data-data astronomi seperti di atas untuk membantu dalam pengamatan (minimal harus tahu data posisi Bulan dan Matahari saat itu).
Beruntung saat ini kita di Kanazawa dan tidak perlu terlalu pusing menghadapi perbedaan karena dalam kondisi minoritas, juga dari analisa di atas untuk Ramadan ini seharusnya tidak ada perbedaan (baik wujudul hilal maupun imkanur rukyat). Yang terpenting tetaplah ikhlas menjalankan ibadah puasa kita disini dan menjalaninya sebaik mungkin. Manusia diwajibkan terus belajar, apapun itu, termasuk belajar dari kesalahan, ataupun dari perbedaan.

Wassalam,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,496 other followers